Perkembangan Ilmu Tasawuf Menurut Sejarah Kebudayaan Islam.


Perkembangan ilmu tasawuf.

  Benih-benih tasawuf sudah ada sejak kehidupan Nabi Muhammad saw hal itu dapat dilihat pada perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah, dan pribadi Nabi Muhammad saw.
  sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad saw selama berhari-hari bertafakur dan berkhalwat di Gua Hira, terutama pada bulan Ramadan. pengasingan diri Nabi Muhammad saw. di Gua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat. Puncak kedekatan Nabi Muhammad saw dengan Allah swt. tercapai ketika melakukan Isra Mi'raj. dalam Isra Mi'raj Nabi Muhammad saw naik ke sidratul muntaha dan berdialog dengan Allah swt. juga menerima pemerintah Sholat dalam peristiwa tersebut.

  Setelah periode Nabi Muhammad saw, benih tasawuf muncul dengan meneladani perikehidupan Khulafaur Rasyidin. mereka merupakan murid langsung Nabi Muhammad saw dalam segala perbuatan dan ucapan, para sahabat senantiasa mengikuti kehidupan Nabi Muhammad saw. para sahabat yang menjalani kehidupan zuhud terkenal dengan sebutan ahlus suffah. mereka tinggal di Masjid Nabawi, Madinah dalam keadaan miskin dan serba kekurangan. namun, mereka tetap teguh dalam menegak kan aqidah dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. diantara ahlus suffah itu adalah Abu Hurairah, Abu Dzar al-ghifari, Salman Al Farisi, Mu'adz Bin Jabal, Abu Ubaidah Bin jarrah, Abdullah Bin Mas'ud, dan Huzaifah bin Yaman.

  Pada masa Bani Umayyah, kehidupan tasawuf dijalani oleh generasi tabiin. Pada masa ini, kondisi sosial politik telah jauh berubah dari masa-masa sebelumnya. dengan sistem pemerintahan monarki, khalifah khalifah Bani Umayyah secara bebas berbuat Ghazali Man terutama terhadap kelompok syiah. yaitu kelompok lawan politik yang paling gencar menentangnya. Puncak kesulitan Mereka terlihat jelas pada peristiwa terbunuhnya Husein bin Ali di Karbala. peristiwa tersebut mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Islam Ketika itu. sekelompok penduduk kufah merasa menyesal karena telah menghianati Husein bin Ali dan memberikan dukungan kepada pihak yang melawan Husein bin Ali. mereka menyebut dirinya kelompok Attawabun atau orang-orang yang bertobat. mereka dipimpin oleh Muchtar bin ubaid yang akhirnya dibunuh oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 68 Hijriah.

  Pada masa itu, kehidupan keluarga Bani Umayyah dan kalangan istana sudah jauh dari tuntunan nabi Muhammad saw. dan lebih dekat kepada kehidupan raja-raja Romawi. oleh karena itu kaum muslimin yang sholeh kemudian menyeru kepada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, soleh dan tidak tenggelam dalam buaian hawa nafsu. di antara para penyeru itu adalah Abu Dzar al-ghifari, yaitu salah seorang sahabat yang masih hidup pada zaman itu.

 Tokoh tabiin yang muncul di Madinah dan menyerahkan hidup zuhud adalah Said bin musayyab (wafat 94 Hijriah) selanjutnya muncul Salim bin Abdullah bin Umar Bin Khattab. dikisahkan suatu ketika khalifah Sulaiman bin Abdul Malik masuk ke Masjidil Haram. di dalam masjid, Iya melihat Salim lalu menegurnya. "Mintalah kepadaku segala kebutuhanmu"saling menjawab "demi Allah, dalam Baitullah ini aku tidak meminta kepada siapapun kecuali kepada Allah swt".

  Di kota Basrah, masyhur pola nama Hasan Al basri. Iya diasuh oleh Ali bin Abi Tholib dan juga banyak belajar pada hudzaifah bin Yaman. dalam mengajarkan hidup zuhud, Hasan Al basri mengatakan, "jauhilah dunia ini karena ia sebenarnya serupa dengan ular, licin pada perasaan tangan, tetapi racun yang mematikan". tokoh zuhud di Basrah lainnya adalah Malik bin Dinar. Iya adalah anak seorang budak berbangsa Persia dari sijistan dan menjadi murid Hasan Al basri. dikisahkan, Malik bin Dinar makan dari hasil kerja mengambil pelepah kurma. di rumahnya tidak ada apa-apa, kecuali kumpulan lembaran Alquran, kendi, dan tikar. corak yang menonjol dari para tokoh kerohanian di Basrah ialah kezuhudan dan rasa takut yang luar biasa terhadap kemurkaan Allah swt.

  Di kufah, tokoh tabiin yang termashur adalah Sofyan as-sauri, Rabi bin Khoisam, Sa'id bin jubair, tawus Bin kaisan Al- Yamani, Sufyan Bin uyainah, dan Abu Hasyim. umumnya mereka mempunyai ketekunan yang istimewa dalam beribadah. dalam salah satu riwayatnya Al Ghazali mengatakan bahwa mereka sanggup melakukan Sholat sepanjang malam.

0 Response to "Perkembangan Ilmu Tasawuf Menurut Sejarah Kebudayaan Islam."

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel