Perkembangan Ilmu Fiqih Menurut Sejarah Kebudayaan Islam

  Definisi fiqih menurut ulama Fiqih adalah sekumpulan hukum Amaliah yang disyariatkan dalam Islam. bidang bahasan ilmu fiqih adalah setiap perbuatan mukallaf yang terhadap perbuatan yang itu ditentukan hukum apa yang harus dikenakan.

  Menurut seorang ahli fiqih dan ahli Ushul fiqih yang bernama Mustofa Ahmad zarqa, perkembangan ilmu ilmu fiqih terbagi dalam 7 periode. periode pertama adalah periode Risalah, yaitu periode yang berlangsung pada masa hidup Nabi Muhammad saw. periode kedua berlangsung sejak zaman Khulafaur Rasyidin sampai pertengahan abad pertama Hijriyah.

  Periode ke-3 berlangsung sejak pertengahan abad pertama Hijriyah sampai permulaan abad ke-2 Hijriyah. periode keempat dimulai pada permulaan abad ke-2 Hijriyah dan berakhir pada pertengahan abad ke-4 Hijriah. periode kelima berlangsung pada pertengahan abad ke-4 Hijriah sampai jatuhnya Baghdad pada pertengahan abad ke-7 Hijriyah.

  Periode keenam dimulai pada pertengahan abad ke-7 Hijriyah sampai munculnya majalah Al Ahkam Al Adliyyah, yaitu sebuah kodifikasi hukum perdata Islam di zaman Turki Usmani yang diundangkan tanggal 26 Saban 1293 m. Adapun periode ke-7 dimulai sejak diundangkannya kodifikasi hukum perdata Islam tersebut hingga sekarang.

  Perkembangan ilmu fiqih pada masa Bani Umayyah hampir seluruhnya terjadi pada periode ketiga. agar lebih dapat dipahami, pembahasan berikut ini juga akan mengemukakan sekilas perkembangan ilmu fiqih pada periode pertama dan kedua.


1. perkembangan ilmu fiqih pada periode pertama.

  Pada periode ini, fiqih masih dipahami sebagai segala yang dikandung Alquran dan hadis, Yaitu mencakup persoalan akidah, ibadah, Muamalah dan adab.

  Di zaman Nabi Muhammad saw, fiqih belum terbagi dalam bidang-bidang tertentu. berbagai permasalahan yang muncul pada waktu itu bisa dipecahkan oleh jawaban Nabi Muhammad saw. yang berdasarkan wahyu Allah swt. dengan demikian, rujukan untuk menentukan hukum pada waktu itu adalah Alquran dan hadis saja.

2. perkembangan ilmu fiqih pada periode kedua

  Setelah Nabi Muhammad saw, wafat tidak ada lagi tempat bertanya tentang suatu hukum atau masalah yang tidak diatur secara tegas dalam Alquran dan hadis. oleh karena itu, para sahabat mulai berani menggunakan ijtihad. Selain itu, kondisi masyarakat yang heterogen karena adanya penaklukan penaklukan keluar Semenanjung Arab juga menyebabkan penggunaan ijtihad tidak dapat terhindarkan lagi. akan tetapi, ilmu fiqih Pada masa itu belum merupakan bidang ilmu yang terkodifikasi. Disamping itu, penggunaan akal (ar-ra'yu) dan kias dalam mencari jawaban hukum juga dimulai pada periode ini. diantara ulama yang melakukan hal itu adalah Umar Bin Khattab, Khulafaur Rasyidin yang kedua.

3. perkembangan ilmu fiqih pada periode ketiga.

  Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, para sahabat mulai berpencar ke berbagai daerah. para sahabat tersebut menjumpai masyarakat yang memiliki sistem sosial yang berbeda. dengan demikian, semakin banyak pula hasil ijtihad yang muncul sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

  Di Irak, Ibnu Mas'ud berperan sebagai sahabat yang menjawab berbagai persoalan di sana. sistem masyarakat di Irak berbeda dengan sistem masyarakat di Mekah atau Madinah. hal itu karena masyarakat Irak lebih heterogen dibanding masyarakat Mekkah dan Madinah sehingga permasalahan yang mereka hadapi juga lebih kompleks. dalam berijtihad, Ibnu Mas'ud mengikuti cara-cara Umar Bin Khattab yang mengedepankan Nalar dan akal. dari sinilah munculnya aliran ahlur-ra'yi di Irak.

  Adapun ilmu fiqih dikembangkan oleh Zaid Bin Tsabit dan Abdullah bin Umar di Madinah. dalam berijtihad, mereka mengedepankan dalil-dalil Alquran dan hadis. Hal itu merupakan cikal bakal munculnya aliran Ahlul Hadits.

  Murid-murid Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin Umar selanjutnya meneruskan usaha mereka. di antara murid-murid itu adalah Said bin musayyab di Madinah, Ata bin Abi Rabah di Mekah, Ibrahim an-nakha'i di kufah, makhul di Suriah, dan paus bin kaisan Al yamani di Yaman. mereka adalah generasi tabiin yang mengembangkan ilmu fiqih pada periode selanjutnya.

  Itulah sekelumit kisah tentang Perkembangan Ilmu Fiqih Menurut Sejarah Kebudayaan Islam Semoga dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang agama Islam. sampai jumpa pada pertemuan berikutnya

0 Response to "Perkembangan Ilmu Fiqih Menurut Sejarah Kebudayaan Islam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel